Dibangunin oleh si gEmpA 5,9 SR

Pukul 05.55 WIB, tidurku diusik oleh gempa bumi tektonik yang kata BMG berkekuatan 5,9 Skala Richter. Ketika itu aq sedang tidur di ruanganku di kantor, kalo gak salah yang tidur di lantai atas hanya 3 orang : toni & andi (tidur seranjang) trus aq sendirian di ruanganku. Dari goncangan yang terjadi selama 57 detik, aq hanya merasakan yang 15 detik terakhir ajah. Aq bangun trus tetap diposisi sambil melihat efek goncangannya (gila – seru abis melebihi Kura2-nya Ancol!!!). Setelah goncangan reda aq mulai jalan mo keluar, dari kaca atas sudah terlihat orang2 kantor (berarti tinggal aq sendirian yg belum keluar). Abis itu aq gak jadi turun trus masuk lagi ke ruanganku cari HP, trus call rumah. Alhamdulillah pada slamat. Trus nelpon Inun tapi gak diangkat-angkat jadi kepikiran yg aneh2. Aq juga ngecek Uchil yang kukira sedang di Banyumas, eh ternyata di koasnya baru di Wates. Alhamdulillah dia sehat dan rencana pulang hari itu juga. Trus setelah selese nelpon ada gempa lagi tapi kecil sih, tp ya daripada-daripada aq trus keluar ma anak2 yang laen. Abis itu pulang sekalian ngecek Inun, lum sampe kosnya dia dah nelpon bilang kalo selamat. So aq langsung pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, babe mo brangkat mewisuda di univnya. Ketika di jalan nelpon adekku, bilang kalo katanya ada aer dari selatan. Hm…… hati ini mencoba tidak percaya soalnya dulu dah pernah dicritain tanda-tanda tsunami. Malem hari sebelum tsunami Aceh, banyak hewan yang gelisah. Anjing melolong2, burung berombongan terbang pindah lokasi (hewan2 memperlihatkan pemandangan yang ganjil). Nah ciri2 itu tidak aq lihat pada pagi hari itu. Tapi hati ini tetap merawa was-was, so aq pun menyiapkan ransel berisi perlengkapan (spt kalo mo dinas ke Sumatra). Adekku nampak gelisah tapi aq bilangin kalo ada tsunami kita bisa naek ke atas jadi gak usah panik. Karena listrik mati dan kami gak punya batu batre buat idupin radio, so sangat sensitif dengan info2 yang masuk ke telinga kami. Kebutuhan informasi yang akurat sangat penting untuk mengambil keputusan dalam bertindak dan “tidak panik”. Jaringan telkomsel (Halo, Simpati) tulalit, gak ngerti jaringan rusak or overload.

Ketika isu tsunami merebak, Inun sempet panik dan jalan dari kos ke perempatan lingkar utara. Rencana mo aq jemput dan ungsiin ke rumah. Ketika dalam perjalanan, jakal macet (tapi kok malah dari arah utara ya) so aq make jalan kampung. Di daerah perempatan lingkar utara udah ada orang yang masang info kalo “SAR Paris bilang : tidak ada gelombang pasang”. Info itu membuat hatiku tenang. Inun pun akhirnya juga tetep ke kos ajah. Aku kasih kabar ke rumah kalo ada info dari SAR Paris kalo gak ada aer pasang. Aq ke kantor mandi trus bantu jemput temen2 inun balik ke kos and pulang.

Yang aq petik dari gempa kemaren adalah, sbb:

  • Kebutuhan informasi : perlu radio dengan tenaga batu batre so listrik mati gak masalah.
  • Kebutuhan komunikasi : perlu HT utk tiap anggota keluarga ?
  • Kebutuhan sandang : perlu nyiapin perlengkapan untuk hidup secara darurat (tidak di rumah) yang siap packing.
  • Kebutuhan papan : perlu tenda dan kain terpal dan dipersiapkan agar mudah diambil.
  • Kebutuhan pangan : perlu punya persediaan makanan dan alat masak seperti tentara yang siap packing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: